Langsung ke konten utama

Sustainable Ecotourism for National Park



Mewakili generasi millenial zaman now, masih banyak orang-orang yang mengaku pecinta alam perlu diluruskan mengenai sikapnya berinteraksi dengan alam. Semakin berkembangnya teknologi informasi sangat memudahkan generasi ini untuk mengakses kegemaran mereka dan mempublikasikannya. Tak kalah dengan hobi lain, saat ini travelling merupakan hobi yang banyak digemari oleh masyarakat hampir di semua kalangan usia, bahkan ada juga travelling menjadi mata pencaharian mereka. Itu semua tidak akan menjadi masalah asalkan kita tau porsi sejauh mana alam bisa untuk di explore. Apalagi di zaman sekarang dengan semakin berkembangnya sosial media, masyarakat semakin mudah untuk mendapatkan informasi tentang tujuan wisata alam yang akan dituju. Pastinya selain kita menikmati alam, tujuan lainnya untuk mengabadikan moment disana dan membagikannya di media sosial untuk dikonsumsi publik. Dari situ lokasi wisata yang dulunya masih sepi bisa menjadi ramai dikunjungi dan dijamah semua orang. Apalagi Indonesia menyediakan alam luar biasa indahnya dan memang itu tujuan memperkenalkan Indonesia di kancah dunia.
Saat ini, wisata alam berkembang pesat dan menjadi alternatif utama saat berlibur. Masyarakat lebih memilih berlibur dengan menikmati alam Indonesia dibandingkan dengan berlibur di mall atau tempat-tempat wisata wahana buatan lainnya. Sebagai masyarakat yang awam tentang fungsi alam yang sebenarnya, masih banyak yang belum bisa membedakan wisata dan ekowisata. Wisata alam merupakan kegiatan bersenang-senang dan menikmati alam sperti camping, trekking, rafting dan kegiatan alam lainnya yang selama ini banyak dilakukan oleh masyarakat dengan tujuan memperoleh kepuasan. Sedangkan Ekowisata merupakan kegiatan perjalanan ke alam dengan tujuan untuk menikmati, konservasi alam dan melestarikan alam serta pemberdayaan masyarakat sekitar. Nah, maka dari itu ekowisata merupakan tujuan lengkap bagai wisatawan untuk memperoleh ilmu dan kepuasan. Baik, kita akan bahas mengenai Sustainable Ecotourism atau Ekowisata Berkelanjutan.
Taman nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budaya, pariwisata, dan rekreasi (Source: Wikipedia). Jadi tidak salah jika taman nasional menjadi pilihan destinasi wisata alam untuk berlibur. Seiring dengan hal tersebut, masih banyak pengunjung  yang beltm paham dengan fungsi alam dari sebuah taman nasional yang dikunjungi nya. Pemerintah menyediakan taman nasional memang untuk di explore oleh seluruh warga Indonesia dan mancanegara, tetapi disamping itu semua pengunjung juga harus peduli terhadap keberlanjutan alam agar bisa terus lestari dan bisa dinikmati juga oleh penerus kita kelak. Taman nasional dibentuk dengan tujuan sebagai kawasan yang dilindungi dari berbagai pengaruh yang ditimbulkan seperti perkembangan manusia yang semakin maju dan juga efek polusi yang ditimbulkan.
Sebagai wisatawan banyak hal yang dapat kita lakukan jika kita melakukan kunjungan ke sebuah taman nasional. Dengan cangkupan taman nasional yang cukup luas, wisatawan dapat menjajaki semua spot yang dikelola oleh balai taman nasional seperti belajar budaya masyarakat sekitar, mengetahui zona-zona yang ada di kawasan, mengetahui flora dan fauna dilindungi di sekitar kawasan, dan masih banyak lainnya. Dari situ wisatawan banyak mendapatkan manfaat dan pastinya inti tujuan melakukan pariwisata juga pasti akan tercapai, karena dengan melakukan hal itu semua spot-spot yang dikunjungi akan mewaklili indahnya pemandangan yang disuguhkan dari sebuah taman nasional. Nah semua wisatawan berhak menjadi pelaku ekowisata berkelanjutan, dengan menjadi pengunjung yang sadar akan kepedualiannya dengan kawasan alam pastinya akan enggan melakukan hah-hal yang sifatnya merusak alam, seperti mengotori, menebang pohon, tidak peduli terhadap budaya dan masih banyak contoh lainnya yang besifat menghasilkan polusi. Mulai sekarang bagi yang menamai dirinya sebagai pecinta alam, mari kita ubah mindset kita bahwa mencintai itu merawat bukan hanya menikmati. Sekarang banyak program-program sederhana dari pemerintah ataupun lembaga yang terkait dengan ekowisata seperti menenam pohon pada area yang kurang vegetasi, menanam mangrove untuk mencegah abrasi, dan transplatasi terumbu karang untuk pelestarian ekosistem laut. Hal ini tidak akan menghilangkan eksistensinya untuk melakukan kegiatan pariwisata. Bagi wisatawan yang memang belum bisa mengikuti kegiatan konservasi, pengenalan budidaya ataupun kegiatan ekowisata lainnya karena suatu hal, dapat juga melakukan aksi-aksi kecil untuk menjaga dan merawat alam seperti membawa kembali sampah yang dihasilkan dan membuangnya pada tempat yang telah disediakan, tidak merusak alam, tidak mengambil bagian alam yang dilarang, serta berikan suatu nilai moral pada gambar yang telah diposting hasil dari wisata alam bahwa alam perlu dijaga kelestariannya. Pada generasi saat ini, satu orang menyebarkan isu positif di media sosial sangat berpengaruh terhadap perubahan gaya hidup yang baik bagi pengguna media sosial lainnya. Mari kita semua menjadi agent of change untuk alam yang lestari dan menerapkan sustainable ecotourism tidak hanya untuk wisata di taman nasional tetapi bisa diterapkan di wisata alam lainnya. Karena alam bisa hidup tanpa kita, sedangkan kita tidak bisa hidup tanpa alam.

Transplantasi Terumbu Karang untuk konservasi sumberdaya laut.

Penanaman mangrove untuk pencegah abrasi di pantai. 

Enjoy the fresh waterfall.


Kegiatan pembersihan sampah di Air Terjun Oi Marai, Taman Nasional Tambora
Enjoy sunset in savannah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemah Bakti Road To HKAN Balai Taman Nasional Tambora

  Oleh: Rizal Babil Yasari Akbar, S.Pi “Nagara Rimba Nusa : Merawat Peradaban Menjaga Alam”. Itulah tema Nasional untuk memperingati Hari Koservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2020. Sama halnya dengan tema yang dipakai oleh Balai Taman Nasional Tambora dalam memperingati HKAN khususnya di wilayah SPTN II Pekat/Kempo. HKAN diperingati setiap tanggal 10 Agustus, karena adanya pandemi Covid-19 yang menyerang di seluruh negara, maka BTN Tambora bisa memperingati kegiatan ini pada tanggal 14-15 September 2020 bertepatan dengan peringatan HKAN secara Nasional di TN. Kutai, Bontang, Kalimantan Timur. Kegiatan ini bertempat di savana Doro Ncanga, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Peserta yang hadir berjumlah 250 dari berbagai kalangan masyarakat di Kecamatan Pekat dan Kempo, diantaranya Pelajar Sekolah, Komunitas Pecinta Alam, Lembaga, perwakilan masyarakat di Sekitar TN Tambora, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Masyarakat Peduli Api (MPA). Kegiatan HKAN SPTN II Pekat/ Kempo merupakan ke...

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh

Berkisah tentang apa yang dialami, didapatkan, dan dipelajari itulah arti dari sebuah perjalanan.

Kelompok Binaan 'SORINOMO BERKARYA"

Pendamping Kelompok: Rizal Babil Yasari Akbar Salah satu dari penerapan 10 cara baru pengelolaan kawasan konservasi yang sudah diinstruksikan oleh Dirjen KSDAE adalah masyarakat menjadi subyek pengelolaan kawasan konservasi. Termasuk di Taman Nasional, masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi memegang peran yang penting. Perilaku-perilaku masyarakat yang belum paham mengenai kawasan konservasi harus diubah dan diarahkan untuk tidak mengeksploitasi alam tetapi tetap bisa mensejahterakan kehidupan masyarakat dengan mengedepankan prinsip-prinsip konservasi . Salah satu yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Tambora adalah menjadikan desa binaan dan membentuk pendampingan kelompok desa. Dalam melakukan pembentukan kelompok diperlukan tahapan kegiatan diantaranya mengidentifikasi potensi desa, diskusi masalah dan sumber masalah, penentuan para pihak yang dilibatkan, serta penentuan target dan strategi realisasi. Desa Sorinomo merupakan salah satu desa Binaan Ta...