Pendamping Kelompok: Rizal Babil Yasari Akbar
Salah
satu dari penerapan 10 cara baru pengelolaan kawasan konservasi yang sudah
diinstruksikan oleh Dirjen KSDAE adalah masyarakat menjadi subyek pengelolaan
kawasan konservasi. Termasuk di Taman Nasional, masyarakat yang berbatasan
langsung dengan kawasan konservasi memegang peran yang penting.
Perilaku-perilaku masyarakat yang belum paham mengenai kawasan konservasi harus
diubah dan diarahkan untuk tidak mengeksploitasi alam tetapi tetap bisa mensejahterakan
kehidupan masyarakat dengan mengedepankan prinsip-prinsip konservasi . Salah
satu yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Tambora adalah menjadikan desa
binaan dan membentuk pendampingan kelompok desa. Dalam melakukan pembentukan
kelompok diperlukan tahapan kegiatan diantaranya mengidentifikasi potensi desa,
diskusi masalah dan sumber masalah, penentuan para pihak yang dilibatkan, serta
penentuan target dan strategi realisasi.
Desa
Sorinomo merupakan salah satu desa Binaan Taman Nasional Tambora. Desa ini
berada di Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu. Desa yang berada didekat kawasan ini mempunyai enam dusun ini yang
saling bersinergi untuk membangun desa agar bertambah baik kedepannya. Dusun
tersebut diantaranya: Dusun Padeangan, Pademaju, Sorinomo, Sorinangka, Ointala
Bawah dan Ointala Atas. Masyarakat Sorinomo didominasi oleh suku Sasak yang
bertransmigrasi ke desa tersebut. Budaya suku sasak masih kental dan perilaku
yang diterapkan juga sangat ramah. Kondisi lingkungan yang masih asri dan tanah
yang subur sertai air melimpah, menjadikan mayoritas mata pencaharian
masyarakat Sorinomo adalah bertani. Jenis pertanian yang dikelola masyarat
Sorinomo sangat beragam mulai dari tanaman tebu, jagung, buah-buahan seperti
pisang, jambu mete, durian, alpukat, kopi serta tanaman kayu-kayuan. Oleh karena itu di desa Sorinomo mempunyai
beberapa kelompok tani.
Tidak hanya sektor
pertanian yang dimiliki oleh masyarakat desa Sorinomo, potensi yang lain masih
beragam diantaranya sektor wisata, hhbk (hasil hutan bukan kayu), kerajinan
tangan dan budaya. Sektor wisata yang menjadi andalan masyarakat Sorinomo
adalah air terjun Walet Putih dan air terjun Dewi Penasaran, kedua air terjun
tersebut masih dalam tahap penataan. Selain potensi alam yang dimiliki, potensi
sumberdaya manusia masyarakat Sorinomo tidak diragukan lagi. Apalagi mengenai
kerajinan tangan dan seni budaya yang lain. Beberapa masyarakat Sorinomo
memiliki kemampuan membuat kerajinan tangan seperti anyaman dari rotan, membuat
asbak dari bambu, gantungan kunci dari batok kelapa serta lukisan dan maket.


Pembuatan kerajinan tangan dari rotan
dan bambu oleh masyarakat Sorinomo
Kemampuan
kerajinan tangan yang dimiliki oleh masyarakat Sorinomo ini menjadi potensi
baru yang harus dikembangkan agar bisa berkelanjutan dan menambah nilai
kesejahteraan masyarakat. Pembuatan kerajinan tangan ini masih dikelola secara
individu di rumah masyarakat masing-masing. Hal ini membutuhkan wadah untuk
menampung karya masyarakat sehingga akan muncul karya serta ide-ide baru baru
dari anggota. Taman Nasional dapat memfasilitasi kelompok tesebut dengan
membentuk suatu kelompok binaan. Kelompok binaan ini sudah dibentuk dan
disepakati oleh Kepala Desa, pendamping kelompok, ketua kelompok bersama 20
anggota kelompok yang masing-masing diambil dari perwakilan masyarakat dusun.
Dengan kesepakatan tersebut kelompok ini diberi nama “Sorinomo Berkarya”.
Kelompok
“Sorinomo Berkarya” dibentuk pada 12 Februari 2020. Kelompok ini dibuat dengan
tujuan memanfaatkan potensi sumberdaya yang ada di Desa Sorinomo dan
memberdayakan masyarakat atau pemuda yang tergabung dalam anggota “Sorinomo
Berkarya”. Harapannya kesejahteraan
masyarakat lebih meningkat dengan berkurangnya masyarakat yang bergantung pada
hutan di kawasan konservasi. Potensi kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing
anggota kelompok akan dikumpulkan untuk kemudian di buat konsep baru sehingga
hasil karya yang tercipta memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Bahan yang akan
digunakan untuk membuat kerajianan tangan didapatkan dari alam dengan
memanfaatkan hasil hutan bukan kayu di sekitar kawasan.

Kegiatan Pembentukan Kelompok
“Sorinomo Berkarya”
Saat
ini pemberian bantuan untuk kelompok “Sorinimo Berkarya” belum terealisasi,
sehingga belum ada kegiatan rutin untuk proses pembuatan kerajinan tangan
tersebut. Hal ini juga dikarenakan kondisi wabah covid-19 yang sempat
menghentikan seluruh kegiatan yang sifatnya mengumpulkan massa. Selama wabah
ini, ketua Sorinomo Berkarya tetap berkarya membuat lukisan secara pribadi
untuk mengisi kekosongan waktu. Karya yang dihasilkan selama dirumah saja sudah
banyak dan bisa dinikmati pecinta seni. Dalam suasana wabah pandemi Covid-19
beberapa bulan kemarin opendampingan tetap dilakukan melalui komunikasi jarak
jauh yaitu telefon dan whatsapp. Kini
memasuki era new normal pendamping kembali mendampingi desa untuk berdiskusi
mengenai kelompok dan melakukan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung
kesejahteraan sekitar.
Aktivitas ketua kelompok
“Sorinomo Berkaya” membuat lukisan selama social distancing.
Sembari
bantuan untuk kelompok belum diberikan, pendamping kelompok bersama anggota dan
masyarakat tidak putus bersilaturahmi. Beberapa kegiatan dilakukan untuk
mendukung dan memberi semangat kepada masyarakat untuk mencintai lingkungan.
Mulai dari pemberian bibit tanaman buah, anjangsana bersama masyarakat dan
perangkat desa serta sosialisasi bersama anak-anak Desa Sorinomo. Kegiatan ini
dilakukan sebagai upaya agar masyarakat Sorinomo ikut menjaga kawasan dan
mengurangi aktivitas masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan. Anak-anak
sebagai agent of change sangat perlu
dibekali dengan ilmu-ilmu konservasi sebagai pegangan untuk mengubah perilaku
masyarakat saat ini yang belum menerapkan perilaku konservasi dan untuk masa
depan yang lebih baik.
Anjangsana bersama masyarakat dan
koordinasi bersama perangkat Desa Sorinomo.
Kegiatan pendampingan bersama adik-adik di TPA Sorinomo serta pemberian
bantuan berupa Iqra’ dan Al-Qur’an.
Untuk saat ini belum
ada kendala yang berarti dalam berjalannya kelompok Sorinomo Berkarya. Selain
kerajinan tangan kelompok juga mempunyai alternatif tambahan kegiatan yang
mungkin bisa dilakukan dan masih dalam tahap identifikasi seperti bantuan
peternakan, budidaya lebah madu dan budidaya jamur tiram. Hal ini akan terus
kami diskusikan bersama dan tetap melakukan pendampingan secara rutin. Harapannya
bantuan untuk kelompok segera diberikan sehingga kelompok dapat berjalan ke
tahap selanjutnya, yaitu pembuatan kerajianan tangan dan observasi untuk target
pemasarannya. Pendamping kelompok sangat antusias dan senang dalam membimbing
kelompok karena selain mendapat pengalaman baru juga menambah relasi untuk
mengajak masyarakat ikut menjaga kawasan Taman nasional Tambora. Sifat yang
ramah, pekerja keras dan inovatif dari masyarakat Sorinomo membuat pendamping
kelompok lebih mudah untuk melakukan pendampingan demi kesejahteraan bersama.
Komentar
Posting Komentar